Kawin silang banyak dilakukan untuk mendapatkan ayam kampung dengan produktivitas tinggi, memenuhi tuntutan konsumen. Berhasilkah?
Bambang, yang sudah 2 tahun ini mengaku asik bergelut dengan usaha pembibitan ayam kampung, kini tengah fokus menggarap proyek mengawinsilangkan beberapa jenis ayam kampung. “Tujuannya adalah mendapatkan bibit unggul yang sesuai dengan selera konsumen,” kata Bambang. Ayam merawang dipilih dengan alasan memiliki sifat dwiguna. Sebagai pedaging jenis ini cocok, di sisi lain produktivitas telurnya juga tinggi.
Tetapi karena penampilan yang seperti layer, variabel yang kurang disukai konsumen ini hendak dikoreksi Bambang. Menurut pria asli Solo ini, dalam persepsi umum konsumen, ayam kampung harus kehitaman atau berwarna gelap dan kakinya kehitaman. Sehingga kawin silang ayam merawang dengan ayam kampung lain diprediksi bakal berujung pada hasil ayam dengan kualitas genetik dan performa yang sesuai pasar. Ia yakin bisnis ini sangat prospektif.
Sifat Induk Betina
Dalam mengawinsilangkan ayam kampung, menurut Bambang, yang menjadi dasar utama adalah produktivitas betina. Kemampuan bertelur induk yang tinggi, akan diturunkan sehingga turunannya akan mampu berproduksi telur yang tinggi. “Tongkrongan ayam merawang itu lebih tinggi dan ramping. Inilah yang mencirikan produktivitas tinggi,” terangnya.
Ukuran telur pun, lanjut Bambang, relatif lebih besar ketimbang ayam kampung lainnya. “Sekitar 45 – 50 gram,” ia menyebut ukuran rerata bobot telur ayam merawang. Variabel ini juga digunakan Bambang sebagai dasar dalam kawin silang ayam kampung. Karena dengan persilangan ini ukuran telur dan DOC (Day Old Chick/ayam umur sehari) yang dihasilkan akan lebih besar lagi.
Sementara untuk induk jantan, Bambang memilih ayam pelung dan kedu sebagai pasangan ayam merawang. Kedua ayam kampung ini memiliki postur besar, pertumbuhan cepat, dan terutama warna tubuh yang gelap. “Anakan yang didapat sedang dicoba dikawinsilangkan untuk menghasilkan generasi kedua (F2). Diharapkan turunannya bisa menjadi calon indukan lagi dan sifat – sifatnya bisa mendekati kriteria ayam kampung sesuai selera konsumen,” ujarnya optimis. Satu hal yang masih mengganjal, kata Bambang, ayam kampung kreasinya rata-rata berjengger tunggal. “Buat konsumen pedaging ini persoalan tersendiri, karena biasanya kurang disuka,” ungkapnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar